Calon PNS
Ada berita di TV beberapa hari lalu. Kisahnya, ada seorang kepala desa di Mulyoagung, Bojonegoro, Jawa Timur bernama Sawiyono mendapat kiriman SMS dari seseorang yang memberikan informasi ada lowongan masuk jadi PNS. Karena percaya pada SMS itu, dan ingin berbuat baik bagi warga kampungnya, sang kepala desa meneruskan informasi tersebut kepada para pemuda di desanya.
Dalam SMS tersebut diberitahukan salah satu syarat untuk menjadi PNS adalah dengan membuat tato pada bagian wajah, selain tinggi badan tidak boleh kurang 165 cm. Entah ada angin apa, informasi tersebut juga diteruskan sang kepala desa kepada dua pemuda di desanya, Bambang (40) dan Nanang (35) . Tergiur peluang menjadi PNS –sebetulnya posisi yang ditawarkan adalah intel– tanpa pikir panjang kedua pemuda itu melaksanakan syarat khusus tersebut. Mereka berdua mentato wajahnya. Seorang memilih gambar bunga-bunga dan bentuk pohon korpri di kedua pipinya seorang lagi memilih tato sisik ular agar terkesan garang. Mungkin mereka pikir, sebagai intel dengan wajah di tato mereka dapat nyaru jadi siapa saja tanpa ketahuan orang.
Bambang dan Nanang
SMS Malam
Kalau ada pembawa acara yang membuat saya kagum adalah para perempuan yang membawakan sebuah acara ‘bodoh’ yang ditayangkan tengah malam di beberapa stasiun TV. Acaranya semacam kuis yang jawabnya melalui SMS. Selama setengah jam cewek seksi yang membawa acara harus muter-muter ngomong yang itu-itu saja.
Artinya sepanjang acara itu dia harus mencari celah untuk menjawil perhatian penonton padahal tema dan bahan yang harus disampaikan sama sekali tidak menarik. Itulah yang membuat saya kagum, bagaimana cewek-cewek cantik ini agak tersiksa tapi tetap tersenyum.
Setelah TV Tuner dan Dual-On?
Apa yang menjadi andalan ponsel-ponsel merek baru di Indonesia? Menurut catatan saya, setidaknya ada dua fitur yang sampai saat ini masih menjadi bahan jualan mereka –TV tuner dan dual on. Fitur dual-on (bisa aktif untuk dua kartu sekaligus), sebetulnya bukan sesuatu yang ‘wah’ banget. Sejak lama kita sudah dapat mengisi ponsel dengan dua kartu sekaligus, cukup dengan modifikasi sedikit pada bagian SIM Card.
Lagipula untuk fitur dual-on bisa dibilang Samsung lebih dulu memperkenalkan fitur ini ke pasaran Indonesia. Bedanya jika ponsel Samsung dengan fitur tersebut harganya ‘naudzubillah’, sementara ponsel-ponsel baru yang mengandalkan fitur dual-on harganya sudah ‘Alhamdulillah’.
Tata Niaga Perdagangan Ponsel
Mau tahu berapa jumlah ponsel yang beredar di Indonesia selama 2007? Menurut data barang beredar jumlahnya mencapai 21 juta unit. Sedangkan jumlah impor ponsel yang tercatat hanya 1,5 juta saja. Berarti dari 21 juta ponsel yang dijual di Indonesia selama 2007, hanya 1,5 saja yang bayar pajak resmi. Kabarnya inilah salah satu alasan pemerintah ingin membuat aturan lebih ketat mengenai perdagangan ponsel. Istilahnya semacam tata niaga perdangan ponsel.
Meskipun, pengalaman kita tentang tata niaga perdagangan, kecenderungannya selalu mendistorsi pasar, membuat persaingan mandeg dan konsumen membayar jauh lebih tinggi. Satu hal lagi, seringkali juga hanya mengguntungkan segelintir orang saja.
Dua Nomor, Dua Produk
Setelah Mobile-8 memiliki ijin operasional Fixed Wireless Access (FWA) dan meluncurkan produk Hepi, sepertinya bakal ada perubahan besar dalam formula bisnis mereka. Sebelumnya mereka sudah mengeluarkan produk Fren, sebagai seluler berbasis teknologi CDMA.
Sedangkan Hepi adalah FWA dengan basis teknologi CDMA juga. Antara ijin seluler dan FWA memang perbedaannya hanya pada pembatasan operasional dan formula tarif. Kalau seluler bisa digunakan dimanapun, sementara FWA sebetulnya hanya bisa digunakan dalam area terbatas. Istilahnya limited mobility.
Tentang Sekolah
Ada dua film Indonesia tentang semangat bersekolah yang saya saksikan minggu ini –Denias (film lama yang baru saya dapat DVD-nya) dan Laskar Pelangi. Kedua film itu menggambarkan betapa sekolah itu penting bagi kehidupan anak-anak. Bersekolah, bagi anak-anak itu, semacam sebuah proses yang harus dilalui dalam kehidupan. Dalam film Denias, sang pemeran utama rela berlari dari desanya yang jauh di pedalaman Papua menuju kota kabupaten hanya sekadar untuk bersekolah. Perjuangannya tidak enteng.
Begitupun dalam film Laskar Pelangi, tokoh Lintang bersepeda puluhan kilometer saban hari untuk mencapai sekolahnya. Bahkan setiap kali berangkat sekolah dia harus berhadapan dengan mara bahaya, seperti dihadang buaya segede lemari di tengah jalan. Bagi anak-anak dalam film itu bersekolah merupakan sebuah ritual yang harus dijalani. Atau semacam tiket untuk menjejakan kaki pada kesejahteraan yang lebih tinggi.
Bangkrut
Lehman Brothers, lembaga keuangan nomor empat terbesar di AS itu akhirnya ambruk. Saya membayangkan dia mati seperti raksasa tumbang akibat keracunan makanan kegemarannya sendiri. Tubuhnya yang besar limbung. Sirkulasi darahnya tercekat tidak lagi mengalir ke otak. Lalu dia jatuh tiba-tiba. Gedubrak!
Rangkaian sistem keuangan dunia yang tersambung satu sama lain ini tentu akan terkena getarannya akibat kejatuhan Lehman Brothers. Para pemimpin pemerintahan dunia kini sedang misuh-misuh terhadap system keuangan AS yang membuat mereka ada dalam jurang bahaya.
Menonton Laskar Pelangi
Saya menyaksikan film Laskar pelangi bersama sahabat saya, Raya. Seperti biasa sehabis menjalankan aktifitas bersama, kami terlibat diskusi . Juga setelah nonton film ini. Saya yang kebetulan sudah membaca novelnya merasa sajian Riri Riza ini lumayan : meski terlalu banyak yang ingin dicuplik dari novel yang inspiratif itu. Saya menyukai tokoh Mahar dan Kucai dalam film itu. Adegan Mahar ketika menyanyi lagu melayu Bunga Seroja, walaupun terasa karikutural, bagi saya sangat menarik. Sementara Kucai, meski bukan tokoh sentral dalam film itu, berhasil menggambarkan keaslian anak-anak Belitong.
Raya lebih menyukai tokoh Harun. Ekspresi Harun dalam film itu selalu membuatnya senang. Namun bagi sahabat saya ini, adegan yang paling disukai adalah ketika Lintang setiap pagi bertemu buaya saat berangkat sekolah. Tapi Raya sangat menyayangkan kenapa pada film itu tidak ada tokoh superhero yang berani melawan buaya. Kenapa dalam film semuanya harus sama seperti dalam kehidupan nyata –orang-orang takut pada buaya.
Winnetou
Kematian Winnetou membuat saya menangis. Setiap kali saya membacanya, setiap kali itu juga saya mengulangi kesedihan yang sama. Menikmati rasa kehilangan yang sama. Buku itu (serial Winnetou III) memang sudah berkali-kali saya baca. Dan ketika kisahnya sampai pada drama kematian Winnetou, saya tidak sanggup untuk tidak bersedih. Setiap kali membacanya, saya hanyut dalam suasana duka.
Sebetulnya pada kali kedua saya membaca Winnetou III, saya seperti ingin melewati bagian itu –bagian ketika Winnetou tertembak dan mati di pengkuan Old Shuterhand, sahabatnya. Saya ingin melompat langsung ke bagian berikutnya. Begitupun ketika saya membacanya pada kali ketiga, keempat atau kelima. Ketika saya membaca ulang buku-buku tersebut, bukan langsung dari buku III. Biasanya saya membacanya mulai dari awal lagi : Winnetou I, II dan kemudian III. Itu kebiasaan agar saya tetap mendapat semangat dan nuansa yang sama persis seperti ketika saya pertama kali membacanya.
Recent Comments