Archive for September, 2008
Tentang Sekolah
Ada dua film Indonesia tentang semangat bersekolah yang saya saksikan minggu ini –Denias (film lama yang baru saya dapat DVD-nya) dan Laskar Pelangi. Kedua film itu menggambarkan betapa sekolah itu penting bagi kehidupan anak-anak. Bersekolah, bagi anak-anak itu, semacam sebuah proses yang harus dilalui dalam kehidupan. Dalam film Denias, sang pemeran utama rela berlari dari desanya yang jauh di pedalaman Papua menuju kota kabupaten hanya sekadar untuk bersekolah. Perjuangannya tidak enteng.
Begitupun dalam film Laskar Pelangi, tokoh Lintang bersepeda puluhan kilometer saban hari untuk mencapai sekolahnya. Bahkan setiap kali berangkat sekolah dia harus berhadapan dengan mara bahaya, seperti dihadang buaya segede lemari di tengah jalan. Bagi anak-anak dalam film itu bersekolah merupakan sebuah ritual yang harus dijalani. Atau semacam tiket untuk menjejakan kaki pada kesejahteraan yang lebih tinggi.
Bangkrut
Lehman Brothers, lembaga keuangan nomor empat terbesar di AS itu akhirnya ambruk. Saya membayangkan dia mati seperti raksasa tumbang akibat keracunan makanan kegemarannya sendiri. Tubuhnya yang besar limbung. Sirkulasi darahnya tercekat tidak lagi mengalir ke otak. Lalu dia jatuh tiba-tiba. Gedubrak!
Rangkaian sistem keuangan dunia yang tersambung satu sama lain ini tentu akan terkena getarannya akibat kejatuhan Lehman Brothers. Para pemimpin pemerintahan dunia kini sedang misuh-misuh terhadap system keuangan AS yang membuat mereka ada dalam jurang bahaya.
Menonton Laskar Pelangi
Saya menyaksikan film Laskar pelangi bersama sahabat saya, Raya. Seperti biasa sehabis menjalankan aktifitas bersama, kami terlibat diskusi . Juga setelah nonton film ini. Saya yang kebetulan sudah membaca novelnya merasa sajian Riri Riza ini lumayan : meski terlalu banyak yang ingin dicuplik dari novel yang inspiratif itu. Saya menyukai tokoh Mahar dan Kucai dalam film itu. Adegan Mahar ketika menyanyi lagu melayu Bunga Seroja, walaupun terasa karikutural, bagi saya sangat menarik. Sementara Kucai, meski bukan tokoh sentral dalam film itu, berhasil menggambarkan keaslian anak-anak Belitong.
Raya lebih menyukai tokoh Harun. Ekspresi Harun dalam film itu selalu membuatnya senang. Namun bagi sahabat saya ini, adegan yang paling disukai adalah ketika Lintang setiap pagi bertemu buaya saat berangkat sekolah. Tapi Raya sangat menyayangkan kenapa pada film itu tidak ada tokoh superhero yang berani melawan buaya. Kenapa dalam film semuanya harus sama seperti dalam kehidupan nyata –orang-orang takut pada buaya.
Winnetou
Kematian Winnetou membuat saya menangis. Setiap kali saya membacanya, setiap kali itu juga saya mengulangi kesedihan yang sama. Menikmati rasa kehilangan yang sama. Buku itu (serial Winnetou III) memang sudah berkali-kali saya baca. Dan ketika kisahnya sampai pada drama kematian Winnetou, saya tidak sanggup untuk tidak bersedih. Setiap kali membacanya, saya hanyut dalam suasana duka.
Sebetulnya pada kali kedua saya membaca Winnetou III, saya seperti ingin melewati bagian itu –bagian ketika Winnetou tertembak dan mati di pengkuan Old Shuterhand, sahabatnya. Saya ingin melompat langsung ke bagian berikutnya. Begitupun ketika saya membacanya pada kali ketiga, keempat atau kelima. Ketika saya membaca ulang buku-buku tersebut, bukan langsung dari buku III. Biasanya saya membacanya mulai dari awal lagi : Winnetou I, II dan kemudian III. Itu kebiasaan agar saya tetap mendapat semangat dan nuansa yang sama persis seperti ketika saya pertama kali membacanya.
Syaikhon
Perasaan apa yang melanda M. Syaikhon ketika kedermawanannya justru berbuah tragedi? Dua puluh satu orang tewas berdesakan di depan rumahnya. Mereka adalah kaum miskin yang berbondong-bondong datang untuk mendapatkan sekadar sedekah dari bandar sapi itu. Syaikhon menjatah setiap orang akan pulang membawa duit Rp 30 ribu. Pembagian dimulai jam 9.00.
Tetapi sejak subuh orang-orang sudah berkumpul di gang sempit depan rumahnya. Semua berbaris, menunggu selembar dua puluh ribuan dan selembar cebanan. Lantas, ketika panitia mulai membagikan sumbangan, orang-orang menjadi tidak sabar. Kebengisan terjadi. Duit membuat massa bermata gelap. Mereka merangsek, mendorong, terjepit, melawan, berteriak, dan sesak. Diantaranya ada yang kehabisan nafas. Tetapi duit Rp 30 ribu lebih penting.
Raya
Saya mengenalnya hampir empat tahun lalu. Sebetulnya sebelum perkenalan resmi itu saya juga sudah merasa akrab dengannya. Dia memang tidak tahu kalau saya suka memperhatikan dirinya. Tetapi yang jelas-jelas bertemu muka dan berkenalan, ya empat tahun yang lalu itu. “Raya,” katanya seraya menjabat tangan saya. Suaranya pasti. Menembus gendang telinga menelusup sampai ke aorta. Saya pandangi matanya. Dia tersenyum.
Sejak itu kami sering bermain bersama. Meski dipisahkan usia yang cukup jauh (perbedaannya mencapai 30-an tahun), toh kami bisa akrab. Kami tidak merasakan gap antar-generasi yang disebabkan karena perbedaan usia. Bukankah teman sejati tidak bisa dibatasi usia? Jika Raya sekarang menjadi teman akrab saya, meski jauh lebih muda usianya, saya rasa itu suatu hal yang lumrah. Berteman adalah saling berbagi, saling melengkapi. “Jangan pernah takut menghadapi hidup, sebab kamu punya teman…,” begitu selalu katanya pada aya.
Kemat, Devid dan Sugi
Ketiganya adalah orang yang dituduh membunuh Asrori (Aldo), di Jombang. Awalnya dari mayat yang ditemukan di sebuah kebun tebu dan polisi mengidentifikasi sebagai Asrori. Maka sangkaan dilimpahkan kepada ketiga orang tersebut, sampai akhirnya diproses secara hukum. Namun, pada kasus Ryan si penjagal, justru tubuh Asrori ditemukan sebagai salah satu korban pembunuh berantai ini. Mayat lelaki di kebun tebu jelas bukan Asrosi. Begitupun tuduhan yang dialamatkan kepada Kemat, Devid dan Sugi bahwa mereka adalah pembunuh Asrori secara logika kehilangan legitimasinya.
Kemat, lelaki tembem dengan gaya gemulai, sudah dijatuhi hukuman 17 tahun penjara, sedangkan Devid divonis 12 tahun. Sementara Sugi masih menjalani proses persidangan. Yang jadi pertanyaan, bagaimana semua penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) bisa mengambil kesimpulan serampangan seperti ini? Ada tiga terdakwa yang dituduh melakukan pembunuhan Asrori. Untuk menyidangkannya perlu disusun kisah agar semua orang percaya pada kesimpulan bahwa mereka bertigalah pembunuh Asrori. Ketika pemeriksaan polisi, misalnya, kisah ketiganya harus klop. Apa peran mereka, di mana posisinya, apa motifnya, benda apa yang digunakan untuk membunuh, cara membunuhnya, kendaraan yang dipakai dalam pembunuhan, siapa dalangnya, siapa eksekutor, bagaimana dia dibunuhnya dan lain sebagainya.
Surati
Namanya Surati putri dari Paiman alias Sastrowongso alias Sastro Kassier. Ayahnya ini adalah seorang klerk pabrik gula di daerah Tulangan, Jawa Timur. Jaman itu, jabatan adalah kehidupan. Seorang klerk di pabrik gula, hidupnya bergantung pada titah tuan besar administratur yang biasanya diduduki oleh Belanda totok. Sialnya, bule yang menduduki posisi itu tipe penjajah asli. Dia menyenangi penjajahan ekonomis maupun biologis atas semua orang di bawahnya. Kebetulan Paiman punya Surati, putri sulung cantik yang ditaksir oleh Plikemboh, sang administrastur pabrik gula. Paiman tidak punya kuasa untuk menolak. Singkat cerita, demi menyelamatkan jabatannya, diserahkanlah Surati pada Plikemboh. Surati tahu, dia adalah korban sebuah kekuasaan. Dia ingin melawan, justru dengan segala keterbatasannya.
Sebelum diserahkan oleh ayahnya kepada Plikemboh, Surati meminta pada orangtuanya untuk dibiarkan tetirah sendiri. Dia berjalan sendirian, menyusuri desa. Hingga sampai ke sebuah kampung yang penduduknya hampir tumpas karena wabah cacar. Kala itu, jika wabah cacar menjangkiti satu desa, jalan satu-satunya adalah diisolasi. Kecepatan penularan virus cacar sangat luar biasa. Ketika seluruh penduduk di sana sudah terkapar, baru desa tersebut di bakar. Nah, Surati bermalam di desa itu, di tengah mayat-mayat yang bergelimpangan. Dia membekap bayi kecil yang sekarat digegoti virus ganas itu. Lantas dia kembali ke kampungnya, siap menyerahkan dirinya kepada tuan Plikemboh. Ketika lelaki dengan tubuh raksasa itu mendatangi Surati, bukan hanya kenikmatan yang didapat, juga virus cacar. Seminggu setelah bergelut menikmati Surati, tubuh Plikemboh melorot. Kulitnya penuh bercak. Virus cacar merampas hidupnya. Sementara Surati sendiri selamat, hidup dengan wajah penuh bopeng.
Tole
Tubuhnya sedikit lebih tinggi dibanding saya. Wajahnya oval berambut lurus. Kulit cenderung gelap dengan pakaian khas celana pendek berbahan katun. Jika berjalan seolah dunia agak sedikit oleng. Sebab kepalanya selalu ditekuk ke bahu kanan sehingga sorot matanya seperti orang yang selalu was-was. Namanya Tole. Atau begitulah dia dipanggil. Sebab saya tidak pernah tahu siapa nama sebenarnya. Waktu kecil dia adalah teman saya menghabiskan keceriaan. Setiap kali bermain, saya yang selalu ke rumahnya. Dia tidak pernah bermain jauh dari ibunya. Keterbatasan kognitifnya sering kali menjadi bahan ejekan teman-teman saya yang lain. Karena itu juga mungkin, dia tidak berani melangkah jauh dari rumahnya. Kalau mengganggu Tole, teman-teman saya belum berhenti sampai Tole menangis berguling. Bukan cuma teman sebaya, orang yang lebih tua juga suka menganggunya. Mereka gemar melemparkan pertanyaan kepada Tole, yang sering direspon dengan jawaban lucu ‘tulalit’ khas Tole. Maka meledaklah tawa mereka. Makanya kalau saya datang ke rumah Tole mengajak dia bermain, wajahnya langsung berubah ceria. Cengirannya khas.
Tole tumbuh dengan perkembangan kognitif kurang maksimal. Meski kontur wajahnya tidak mengindikasikan dia menderita down syndrome, namun kemampuan berpikirnya jauh di bawah rata-rata. Setahu saya, sejak kecil, Tole tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kemanapun ibunya pergi Tole selalu mengiringi. Kecuali di rumah, Tole hampir tidak pernah sendirian. Ketergantungan Tole pada ibunya dan orang-orang dekatnya sangat tinggi. Sebab, dunia luar bagi Tole bukanlah dunia yang bersahabat. Seperti banyak teman-teman saya yang lebih suka menggodanya.
Yayuk
Di tengah kerumunan panitia yang masih asyik ngobrol sehabis lomba memancing –yang kebetulan saya hadiri– ada seorang perempuan tiba-tiba berseru memanggil nama saya. Dia begitu saja menerobos, menyingkirkan orang-orang yang berdiri berkeliling. Sesaat dia memandang saya, menyebut nama saya sekali lagi, ketika saya balas dengan senyum untuk memastikan bahwa saya adalah orang yang dimaksud, dia lantas memeluk dengan hangat. Saya membalas pelukan hangatnya. Orang-orang yang tadinya asyik ngobrol memperhatikan kami yang berpelukan. “Apa kabarnya sekarang?,” tanyanya dengan tatapan tetap lekat seolah ingin memastikan saya adalah bocah kecil yang dikenalnya dulu. Saya hanya tersenyum sambil terus menggenggam tangannya. “Bagaimana kabarnya mamamu? Semua baik-baik kan?,” tanyanya lagi. Saya mengiyakan pertanyaan yang diberikan dengan jawabannya sekaligus itu.
Saya ingat, waktu kecil dulu saya memanggilnya dengan panggilan Yayuk. Padahal usia perempuan itu jauh lebih tua dibanding usia mama saya. Panggilan itu saya ikuti dari cara mama dan tante-tante saya yang memanggilnya juga dengan panggilan Yayuk. Dulu keluarga Yayuk mengontrak bilik sepetak di belakang rumah kakek saya. Suami Yayuk, mas Marto (almarhum) adalah pedagang bakso keliling. Mereka memiliki dua anak perempuan dan seorang anak lelaki seusia saya.
Recent Comments