SMS Malam
October 6, 2008 at 4:58 am Leave a comment
Kalau ada pembawa acara yang membuat saya kagum adalah para perempuan yang membawakan sebuah acara ‘bodoh’ yang ditayangkan tengah malam di beberapa stasiun TV. Acaranya semacam kuis yang jawabnya melalui SMS. Selama setengah jam cewek seksi yang membawa acara harus muter-muter ngomong yang itu-itu saja.
Artinya sepanjang acara itu dia harus mencari celah untuk menjawil perhatian penonton padahal tema dan bahan yang harus disampaikan sama sekali tidak menarik. Itulah yang membuat saya kagum, bagaimana cewek-cewek cantik ini agak tersiksa tapi tetap tersenyum.
Lantas kenapa saya tetap duduk di depan TV padahal konten acaranya sama sekali tidak menarik? Saya pikir, saya juga tidak pernah tertarik mendengar lagu Dewi Persik jika diputar melalui kaset atau radio. Tapi saya biasanya akan menoleh sebentar (biasanya malah jadi betah) jika bintang iklan salah satu operator telepon ini menyanyi di TV.
Saya tidak terlalu menyimak lagu apa yang dibawakan. Saya menonton penyanyinya, bukan menikmati lagunya. Untung saja beberapa pemerintah daerah hanya mencelal Dewi Persik manggung di wilayahnya bukannya mencekal tampil di TV.
Kembali pada kekaguman saya pada si pembawa acara tengah malam itu. Dia harus menyampaikan sebuah tebakan, ”Ada titik-titik, ada semut,” begitu tebakannya. Di kayar kaca ada susunan huruf acak bertuliskan ’ULAG’. Lalu penonton diminta menjawab titik-titik dalam peribahasa tadi yang jawabannya tinggal disusun dari huruf acak yang ada di layar kaca. Kalau saya ’pintar’, rayu sang presenter yang saya nikmati suaranya itu, saya bisa mengirim SMS jawaban ke nomor yang tertera di layar kaca. Kalau jawaban saya benar (ini yang membuat saya tersinggung, seberapa banyak penonton acara ini tidak mengetahui jawaban pertanyaan bodoh di atas?), hadiahnya sepeda motor atau kulkas dua pintu. Ingat, setiap SMS jawaban yang saya kirim tarifnya Rp 2000.
Nah, jika hanya menyampaikan tebakan itu lalu meminta penonton untuk mengirim SMS, paling-paling waktu yang dibutuhkan tidak sampai lima menit. Itu sudah dengan segala liuk-liuknya. Tapi, dia harus mengisi acara 30 menit, dengan pertanyaan bodoh yang tidak bisa dikembangkan dan sebagai presenter tentu dia diminta untuk tetap membetot perhatian orang untuk menontonnya.
Saya memang tidak memperhatikan isi acaranya. Saya tidak menyimak apa pertanyaannya. Dan sama sekali tidak tertarik mengirim SMS untuk menjawab pertanyaan. Cara saya menikmatinya adalah mengecilkan suara TV sampai nol karena takut mengganggu keluarga yang tidur, menyeduh segelas susu panas, dan duduk selonjor menonton si pembawa acara.
Diam-diam saya merasa prihatin dengan para perempuan yang membawakan acara tersebut. Betapa pekerjaan ini telah mereduksi nilai intelektualnya sampai batas nadir.
Sama seperti iklan SMS premium berisi ramalan, yang meminta saya mengirimkan SMS tanggal lahir, lalu bisa ditebak apakah saya lebih cocok menikah dengan wanita seperti Dian Sastro atau Mulan Jameela. Bahkan ada yang cukup meminta saya mengirimkan SMS tanggal dan bulan apa saya membeli kartu perdana, lantas bisa ditebak peruntungan saya, seperti mereka menebak jumlah kelereng dalam genggaman.
Tidak disangka perkembangan industri seluler telah sampai pada batas ambang nalar!
Entry filed under: Uncategorized. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed